5 Bahaya Keselamatan Kerja Teratas (Dan Cara Mengendalikan Masing-Masing)
By Mehreen Iqbal
| 24 Apr 2026
5 bahaya keselamatan kerja: kimia, fisik, ergonomi, biologi, dan psikososial. Langkah pengendalian sesuai PP No. 74 Tahun 2001 dan UU Keselamatan Kerja Indonesia.
5 bahaya keselamatan kerja: kimia, fisik, ergonomi, biologi, dan psikososial. Langkah pengendalian sesuai PP No. 74 Tahun 2001 dan UU Keselamatan Kerja Indonesia.

Lima jenis bahaya keselamatan kerja adalah bahaya kimia, fisik, ergonomi, biologi, dan psikososial. Setiap tempat kerja mengandung setidaknya satu. Sebagian besar mengandung kelima-limanya.

Kategori-kategori ini diakui secara global. Di Indonesia, keselamatan dan kesehatan kerja (K3) diatur oleh Peraturan Pemerintah No. 74 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), Undang-Undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, serta diawasi oleh Kementerian Ketenagakerjaan. Regulasi ini berlaku untuk pabrik manufaktur, lokasi konstruksi, kantor, dan fasilitas kesehatan.

Panduan ini membahas apa yang membuat setiap bahaya berbahaya dan langkah-langkah pengendalian spesifik yang digunakan tim keselamatan untuk mengelolanya.

5 Jenis Bahaya Keselamatan Kerja

5 Jenis Bahaya Keselamatan Kerja
Jenis Bahaya Risiko Utama Peran yang Paling Terdampak
Kimia Terhirup, kontak kulit, tertelan Manufaktur, kebersihan, laboratorium
Fisik Cedera akibat kondisi lingkungan Konstruksi, pergudangan, pemeliharaan
Ergonomi Kerusakan muskuloskeletal seiring waktu Kantor, gudang, layanan kesehatan
Biologi Infeksi, penyakit, reaksi alergi Layanan kesehatan, pertanian, pengolahan pangan
Psikososial Penurunan kesehatan mental, gangguan penilaian Semua industri

Bahaya 1: Bahaya Kimia

Apa itu?

Bahaya kimia adalah zat apa pun yang dapat membahayakan tubuh melalui penghirupan, kontak kulit, atau penelanan. Bahaya kimia ada di manufaktur, layanan kesehatan, layanan kebersihan, dan kantor.

Contoh umum meliputi pelarut, asam, cairan mudah terbakar, debu di udara, asap, dan senyawa organik volatil (VOC). Bahkan produk pembersih kantor biasa pun dapat menyebabkan kerusakan pernapasan jangka panjang akibat paparan berulang.

Cara Mengendalikannya

  • Buat dan pertahankan inventaris kimia lengkap untuk setiap zat di lokasi.
  • Simpan Lembar Data Keselamatan (LDK/SDS) terkini untuk setiap bahan kimia. LDK mencakup identifikasi bahaya, penanganan aman, penyimpanan, dan respons darurat dalam 16 bagian terstandarisasi.
  • Terapkan hierarki pengendalian: eliminasi bahan kimia terlebih dahulu, ganti dengan pilihan yang lebih aman, tambahkan pengendalian teknis seperti ventilasi, lalu gunakan APD sebagai upaya terakhir.
  • Latih pekerja tentang penanganan aman spesifik zat sebelum mereka mulai bekerja.
  • Tinjau dokumen LDK setiap kali pemasok mengubah formulasi atau peraturan diperbarui.

Bahaya 2: Bahaya Fisik

Apa itu?

Bahaya fisik adalah kondisi lingkungan yang menyebabkan cedera tanpa interaksi kimia apa pun. Ini adalah kategori bahaya yang paling terlihat dan sering kali paling dapat dicegah.

Contoh umum meliputi terpeleset, tersandung, dan terjatuh (penyebab utama cedera kerja secara global), kebisingan di atas 85 desibel, suhu ekstrem, dan kontak dengan mesin yang tidak terlindungi.

Cara Mengendalikannya

  • Periksa tempat kerja secara rutin dan segera perbaiki risiko terpeleset, tersandung, dan terjatuh.
  • Pasang pelindung mesin dan terapkan prosedur penguncian/penandaan (LOTO) sesuai Permenaker No. 38 Tahun 2016 untuk semua pemeliharaan peralatan.
  • Pantau tingkat kebisingan dan sediakan pelindung pendengaran di mana ambang batas terlampaui.
  • Terapkan program manajemen stres panas dan dingin untuk peran yang berisiko.
  • Pastikan pencahayaan yang memadai di semua area kerja, termasuk zona penyimpanan dan transit.

Bahaya 3: Bahaya Ergonomi

Apa itu?

Bahaya ergonomi berkembang perlahan. Seorang pekerja yang mengangkat secara tidak benar lusinan kali per shift jarang langsung melaporkan cedera. Pada saat gangguan muskuloskeletal (GMS) didiagnosis, kondisinya sering sudah serius dan mahal untuk diobati.

Contoh umum meliputi gerakan berulang, postur canggung, penanganan manual beban berat, duduk dalam waktu lama, dan stasiun kerja yang dirancang dengan buruk. Bahaya ini mempengaruhi pekerja kantor dan staf gudang secara merata.

Cara Mengendalikannya

  • Lakukan penilaian ergonomi untuk setiap peran yang melibatkan tugas berulang atau penanganan manual.
  • Rancang ulang stasiun kerja agar pekerja mempertahankan posisi tubuh yang netral.
  • Perkenalkan rotasi pekerjaan untuk mengurangi ketegangan pada kelompok otot tertentu.
  • Latih pekerja tentang teknik penanganan manual yang benar saat induksi dan ulangi secara berkala.
  • Gunakan alat bantu mekanis seperti troli dan alat bantu angkat untuk mengurangi beban fisik.

Bahaya 4: Bahaya Biologi

Apa itu?

Bahaya biologi melibatkan paparan terhadap organisme hidup atau produk sampingannya yang dapat menyebabkan penyakit. Petugas kesehatan, pekerja pertanian, staf laboratorium, dan karyawan pengolahan pangan menghadapi risiko biologi yang meningkat setiap hari.

Contoh umum meliputi bakteri, virus, patogen yang ditularkan melalui darah seperti hepatitis B, jamur, cetakan, dan alergen yang berasal dari hewan. Pandemi COVID-19 membuktikan bahwa bahaya biologi juga mempengaruhi lingkungan ritel, logistik, dan kantor.

Cara Mengendalikannya

  • Identifikasi dan klasifikasikan semua agen biologi di tempat kerja sesuai PP No. 74 Tahun 2001 tentang B3 dan Permenkes No. 48 Tahun 2016 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Perkantoran.
  • Gunakan pengendalian teknis yang sesuai dengan risiko, seperti kabinet biosafety, ruangan bertekanan negatif, dan ventilasi berfilter HEPA.
  • Tetapkan prosedur dekontaminasi dan pembuangan limbah yang spesifik untuk agen biologi yang terlibat.
  • Sediakan APD yang sesuai termasuk sarung tangan, masker, dan pelindung wajah yang disesuaikan dengan tingkat risiko biologi.
  • Pertahankan program vaksinasi di mana relevan, seperti vaksinasi hepatitis B untuk petugas kesehatan.

Bahaya 5: Bahaya Psikososial

Apa itu?

Bahaya psikososial adalah kategori yang paling diabaikan dalam keselamatan kerja. Mereka tidak meninggalkan cedera yang terlihat, tetapi dampaknya pada kesehatan, produktivitas, dan retensi karyawan dapat diukur.

Contoh umum meliputi beban kerja yang berlebihan, manajemen yang buruk, perundungan dan pelecehan di tempat kerja, kerja shift tanpa pemulihan yang memadai, dan ketidakamanan kerja. Pekerja yang kelelahan membuat kesalahan. Tim yang kelelahan memotong sudut pada keselamatan.

Cara Mengendalikannya

  • Nilai beban kerja secara rutin dan atasi kesenjangan sumber daya sebelum staf mencapai kelelahan.
  • Buat saluran pelaporan rahasia untuk perundungan, pelecehan, dan kekerasan di tempat kerja.
  • Latih manajer untuk mengenali tanda-tanda awal tekanan psikologis pada tim mereka.
  • Tinjau jadwal shift untuk memastikan istirahat yang cukup antara periode kerja.
  • Bangun budaya keselamatan di mana pekerja merasa aman mengangkat kekhawatiran tanpa takut pembalasan.

Cara Mendokumentasikan dan Mengelola Semua Lima Bahaya

Mengidentifikasi bahaya hanyalah langkah pertama. Setiap bahaya harus didokumentasikan, dinilai, dikendalikan, dan ditinjau.

  • Identifikasi bahaya melalui inspeksi, laporan insiden, dan konsultasi pekerja.
  • Nilai risiko dengan mengevaluasi kemungkinan dan keparahan potensi bahaya.
  • Kendalikan bahaya menggunakan hierarki pengendalian, dimulai dari sumbernya.
  • Dokumentasikan setiap bahaya, tindakan pengendalian, dan tanggal tinjauan dalam register terpusat.
  • Tinjau setelah insiden, perubahan regulasi, atau pembaruan proses apa pun.

Untuk bahaya kimia, setiap zat harus memiliki LDK terkini dalam arsip. Catatan LDK yang kedaluwarsa atau hilang termasuk kegagalan kepatuhan paling umum selama inspeksi tempat kerja. Alat seperti SDS Manager mengotomatiskan pembaruan dan distribusi LDK sehingga dokumentasi tetap patuh.

Poin Utama

Lima bahaya keselamatan kerja universal adalah kimia, fisik, ergonomi, biologi, dan psikososial. Mereka muncul di setiap industri dan setiap ukuran bisnis. Masing-masing memerlukan identifikasi, dokumentasi, dan pengendalian terstruktur sesuai dengan PP No. 74 Tahun 2001, UU No. 1 Tahun 1970, dan panduan Kementerian Ketenagakerjaan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa 5 jenis bahaya keselamatan kerja?

Kimia, fisik, ergonomi, biologi, dan psikososial. Kategori-kategori ini diakui secara global dan di Indonesia diatur oleh PP No. 74 Tahun 2001 dan UU No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.

Apa itu hierarki pengendalian?

Dari yang paling hingga paling tidak efektif: eliminasi, substitusi, isolasi, pengendalian teknis, pengendalian administratif, lalu APD.

Seberapa sering penilaian bahaya harus ditinjau?

Minimal setiap tahun, dan setelah insiden, perubahan proses, pengenalan zat baru, atau pembaruan regulasi apa pun. PP No. 50 Tahun 2012 tentang Sistem Manajemen K3 mewajibkan pengusaha Indonesia untuk melakukan penilaian risiko secara berkala.

Apa itu Lembar Data Keselamatan (LDK)?

Dokumen 16 bagian terstandarisasi yang mencakup identifikasi bahaya, penanganan aman, penyimpanan, dan respons darurat untuk suatu bahan kimia. Pengusaha harus menyimpan catatan LDK terkini yang dapat diakses oleh semua pekerja.

Apakah bahaya kimia hanya relevan di tempat kerja industri?

Tidak. Kantor, sekolah, dan lingkungan ritel semuanya mengandung bahaya kimia. Produk pembersih dan toner printer keduanya memerlukan dokumentasi LDK sesuai regulasi yang selaras dengan GHS, termasuk Peraturan Menteri Perindustrian tentang Sistem Harmonisasi Global (GHS) yang berlaku di Indonesia.

Mehreen Iqbal

Mehreen Iqbal LinkedIn

Started with a Bachelors in Microbiology, then a Masters in Public Health; Currently a Workplace Safety Expert.